Belakangan ini marak sekali kegiatan yang dinilai anarkis. Mahasiswa yang katanya sebagai generasi penerus tanpa sengaja membuat jati diri yang terus menerus update. Layaknya sebuah produk atau program, jika di-update tentunya akan semakin bagus karena sebelumnya pasti ditemukan kekurangan dari berbagai sisi. Namun, apakah yang dimaksud update jati diri ini sesuai dengan yang diinginkan atau tidak, itu mungkin kembali kepada pandangan kita masing-masing.
Demo yang belum lama terjadi yang dituding sebagai “demo anarkis” membuat berbagai macam dampak. Ada yang mendukung, mengecam, bahkan banyak yang tidak peduli. Berbagai macam polemik di tengah masyarakat bukannya semakin hari semakin berkurang, namun yang terjadi malah sebaliknya. Pagar yang dirusak, mobil yang dibakar, bahkan sempat terdengar ada pasien kritis yang meninggal di ambulan karena terjebak kemacetan yang disebabkan oleh demo tersebut.
Saran dari dokter yang biasa kita dengar “lebih baik mencegah dari pada mengobati”. Sebuah penyakit jika diagnosanya telah benar, maka terdaftarlah banyak larangan-larangan untuk si pasien agar keluhannya tidak terulang lagi di hari kemudian. Anarkisme mungkin bisa dikategorikan sebuah penyakit yang belum sempat dibuat diagnosanya yang mana dari dulu terus-menerus diobati saja.
Berbeda dengan maraknya kreativitas wakil kita sekarang, sepertinya hanya sebagian kecil yang memang betul-betul sadar bahwa mereka adalah wakil kita. Belum lagi dengan kreativitas yang sangat terorganisir, seakan-akan mereka memang sudah melupakan ketuanya yaitu kita sebagai rakyat. Ada kalanya mereka menyenangkan hati kita, namun ujung-ujungnya ternyata agar dia lebih “senang”.
Jika ada kegiatan anarkis, langsung dengan tindakan sigap aparat pemerintahan rame-rame mencari kambing hitam. Namun jika beberapa dari mereka melakukan korupsi, eh kambing yang sudah terlihat agak hitam malah berusaha diputihin lagi. : (
Jika kita ternyata tidak bisa berbuat apa-apa (karena memang mereka yang berkuasa) tidak ada salahnya kita dengan tulus mendo’akan Negara ini agar tidak melahirkan orang-orang yang tidak bertanggung jawab dalam kehidupannya.
Filed under: Opini | Tagged: anarkis, anarkisme, dalang, demo, korupsi




Klo bukan bukan anarkis, bukan demo donk.. hehe..