• alFiqr

    Hamba hanyalah seorang yang miskin (faqir) ilmu, yang ingin terus mencari beberapa tetes air di tengah kekeringan dengan harapan agar dapat menghilangkan dahaga orang yang kehausan
  • Thanks for visiting my blog

Forum

Apakah benar kedua orang tua Rasulullah penghuni neraka?

Firman Allah SWT Surah Al Baqarah ayat 119:

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Betapa inginnya aku tahu nasib ibu bapakku.” Maka turunlah ayat tersebut di atas. Rasulullah SAW tidak menyebut-nyebut lagi kedua ibu bapaknya hingga wafatnya. Ayat tersebut di atas menjelaskan Nabi bertugas sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. (Diriwayatkan oleh Abdurrazzaq dari atsTsauri, dari Musa bin ‘Ubaidah yang bersumber dari Muhammad Ibnu Ka’b al-Qarzhi. Hadits ini mursal.)

Dalam riwayat lain dikemukakan bahwa Rasulullah SAW pada suatu hari berdoa. “Di mana kedua ibu bapakku kini berada?” Maka Allah turunlah ayat tersebut di atas. (Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Juraiz yang bersumber dari Dawud bin Abi ‘Ashim. Hadits ini pun mursal.)

Pada asbabunnuzul yang diterangkan sekilas di atas, apakah dapat kita pahami bahwa kedua orang tua Rasulullah adalah penghuni neraka??

Memang hadits di atas termasuk golongan yang mursal, namun bagaimana sebenarnya nasib ummu dan abu Muhammad saw yang telah meninggal sebelum mereka memeluk Islam??

Ada yang mau memberi tanggapan??

2 Responses

  1. Ketika berziarah ke makam ibunya, Rasulullah berkata, ”Aku memohon izin kepada Rabb-ku agar aku dapat meminta ampun untuk ibuku tapi tidak diizinkan, lalu aku minta izin untuk menziarahi kuburnya dan aku diizinkan.”

    Imam Muslim meriwayatkan hadis yang berasal dari Anas, suatu hari ada seseorang bertanya kepada, ”Wahai Rasulullah, di manakah ayahku?” Rasulullah menjawab, ”Ayahmu di neraka.” Lalu orang itu pergi, kemudian Nabi memanggilnya dan bersabda, ”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” Dalam hadis lain disebutkan, Ali bin Rozin Al-Uqaily bertanya, ”Wahai Rasulullah, di manakah ibuku?” Beliau menjawab, ”Ibumu di neraka.” Abi Rozin bertanya lagi, ”Lalu di manakah keluargamu yang telah meninggal?” Nabi menjawab, ”Tidakkah engkau rela ibumu bersama dengan ibuku (di neraka)?’

  2. Ada sebagian orang yang menyangsingkan keshahihan hadits ini dikarenakan -menurut mereka- tidaklah sejalan dengan firman Allah ‘Azza Wa Jalla, “Dan Kami tidak akan mengadzab sebelum Kami mengutus seorang rasul.” (QS. Al Isra’ : 15) dan juga dengan rasio (akal) sehat, dimana yang dimaksudkan oleh mereka dalam ayat tersebut adalah ahli fatrah yakni orang-orang yang hidup setelah Nabi Isa ‘Alaihis Salam dan sebelum Nabi Muhammad Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

    Hadits yang dimaksud adalah sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Imam Muslim yang berasal dari Anas berikut. Suatu hari ada seseorang bertanya kepada Rasulullah, ”Wahai Rasulullah, di manakah ayahku?” Rasulullah menjawab, ”Ayahmu di neraka.” Lalu orang itu pergi, kemudian Nabi memanggilnya dan bersabda, ”Sesungguhnya ayahku dan ayahmu di neraka.” [Hadits Shahih Riwayat Muslim Kitabul Iman I/191 no. 203, Abu Dawud

    no. 4718, Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra 7/190]

    Pada riwayat yang lain, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kedua anak Mulaikah,
    “Ibu kamu di Neraka”, keduanya belum bisa menerima, lalu Nabi panggil dan beliau bersabda,
    “Sesungguhnya ibuku bersama ibumu di Neraka” [Thabrani dalam Mu'jam Kabir (10/98-99 no. 10017),
    Al Hakim 4/364.]

    Kesimpulannya adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh Al-Imam An Nawawi rahimahullah berikut;
    “Hadits ini mempunyai makna bahwa barangsiapa yang mati dalam kekafiran maka ia di dalam neraka, tidaklah bermanfaat baginya hubungan kerabat. Demikian pula orang yang mati dalam masa fatrah yang memeluk ajaran orang-orang Arab yaitu penyembahan berhala maka ia menjadi penduduk neraka dan mereka tidaklah diganjar demikian sebelum sampainya dakwah karena sesungguhnya telah sampai dakwah Ibrahim kepada mereka dan Nabi-Nabi selainnya, shalawatullah wa salamuhu ‘alaihim.” [Syarah Shahih Muslim Juz III: 9]
    wallahu’alam

Leave a Reply